
Barru — Nyataonline.web.id -Wakil Bupati Barru, Dr. Ir. Abustan Andi Bintang, M.Si., secara resmi membuka sekaligus menjadi narasumber pada Workshop Peluang Pengembangan Integrated Area Development (IAD) Perhutanan Sosial di Kabupaten Barru, yang digelar di Ruang Meeting RM Surya, Kecamatan Barru, Kamis (5/2/2026).
Workshop ini dihadiri Direktur Pilar Nusantara (PINUS) Provinsi Sulawesi Selatan, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulsel, Kepala Balai Perhutanan Sosial Gowa, Kepala UPT KPH Ajatapparreng, pimpinan OPD terkait, para camat, kelompok perhutanan sosial, serta mitra pembangunan lainnya.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, khususnya PINUS, yang telah menunjuk Kabupaten Barru sebagai lokus pengembangan perhutanan sosial dengan pendekatan kawasan terintegrasi. Menurutnya, kepercayaan tersebut harus dijawab dengan kerja serius dan kolaboratif.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Barru, kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Ini momentum penting yang harus kita maksimalkan, karena potensi yang kita miliki sangat besar,” ujarnya.
Abustan menegaskan bahwa workshop ini menjadi titik awal penyatuan langkah dalam mengoptimalkan kawasan perhutanan sosial yang selama ini belum dikelola secara maksimal. Berdasarkan data pemerintah daerah, luas perhutanan sosial di Kabupaten Barru mencapai sekitar 7.969 hektare yang telah memiliki legalitas, namun pemanfaatannya masih belum optimal.
“Kalau dikelola dengan serius dan terintegrasi, potensi ini minimal bisa menghasilkan ratusan miliar rupiah per tahun, bahkan berpeluang menembus lebih dari satu triliun rupiah. Tapi ini tidak bisa dikerjakan setengah-setengah. Semua sektor harus terlibat sesuai tugas dan fungsinya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep Integrated Area Development (IAD) tidak hanya berfokus pada pengelolaan hutan, tetapi mengintegrasikan berbagai sektor dalam satu kawasan, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata, hingga penguatan ekonomi masyarakat desa. Perhutanan sosial harus menjadi core business yang terhubung dengan potensi lainnya.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan kawasan sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif pemerintah desa. Kepala desa memiliki posisi strategis untuk memastikan program berjalan efektif di tingkat tapak.
“Kuncinya ada di desa. Kalau desa kuat, kegiatan ini akan berjalan. Perhutanan sosial tidak bisa hanya mengandalkan kelompok, tetapi harus melibatkan seluruh masyarakat di sekitar kawasan,” jelasnya.
Wakil Bupati juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan izin kelola kawasan yang telah diberikan. Ia mendorong perubahan pola pikir dari sekadar menunggu bantuan menjadi semangat kemandirian dalam mengelola potensi, mengingat izin pengelolaan kawasan berlaku hingga puluhan tahun ke depan.
Dalam pemaparannya sebagai narasumber, Abustan menjelaskan bahwa pendekatan IAD menekankan integrasi ruang, sektor, pelaku, dan sumber daya dalam satu perencanaan kawasan yang utuh. Ia mencontohkan Desa Harapan yang memiliki potensi besar, seperti kopi, aren, durian, peternakan, savana, hingga hutan pinus yang dapat dikembangkan secara bersamaan.
“Kalau kita integrasikan dengan baik, bukan hanya perhutanan sosial yang hidup, tetapi pariwisata, peternakan, dan produk pangan lokal juga bergerak. Tujuannya satu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” katanya.
Ia juga mendorong penyusunan master plan terpadu dengan pendekatan berbasis tujuan (goal setting model), agar pengembangan kawasan tidak berjalan parsial dan tidak bergantung sepenuhnya pada stimulus dari luar.
Lebih lanjut, Abustan mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menjalin komunikasi dengan dunia usaha dan perguruan tinggi untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan, khususnya kopi, sebagai salah satu penggerak ekonomi kawasan perhutanan sosial.
Menutup arahannya, Wakil Bupati mengajak seluruh peserta workshop menjadikan kegiatan ini sebagai titik awal kerja nyata dalam menyusun langkah strategis pengembangan perhutanan sosial berbasis Integrated Area Development di Kabupaten Barru.
“Kalau kita bergerak bersama, saya yakin dalam dua tahun ke depan hasilnya sudah mulai terlihat. Yang menikmati bukan pemerintah, tetapi masyarakat. Itulah tujuan utama kita,” pungkasnya.


